Senin, 26 Desember 2011

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TIK

PENDAHULUAN

Secara umum, pembangunan di bidang komunikasi dan informatika, terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu aspek penting yang mendorong pembangunan nasional. Selain menjadi faktor produksi dan ekonomi, TIK juga berperan sebagai enabler dalam perubahan sosial budaya kemasyarakatan di berbagai aspek. Aspek-aspek yang dimaksud seperti pengembangan kehidupan politik yang lebih demokratis, pengembangan budaya dan pendidikan, dan peningkatan kapasitas governance di berbagai sektor pembangunan. Perkembangan TIK menyebabkan terciptanya lalu lintas informasi dan komunikasi bebas hambatan antar Negara dan wilayah. Dengan kata lain, keberadaan TIK mampu menghilangkan berbagai hambatan geografis sehingga terjadi transformasi pola hidup manusia di berbagai bidang menuju masyarakat berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge-based society. Manfaat keberadaan TIK bagi bangsa Indonesia adalah :
1. Mendukung perbaikan keamanan dan mempercepat perkembangan kesejahteraan sosial aadan ekonomi
2. Mengatasi berbagai kesenjangan antara pusat dan daerah dalam mendukung suatu AAsis¬tem yang lebih adil dan makmur
3. Meningkatkan akses informasi dan pengetahuan
4. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (human capacity building)
5. Mendukung proses demokrasi dan transparansi birokrasi
6. Membentuk masyarakat informasi (knowledge-based society)

Dengan melihat betapa pentingnya keberadaan TIK, maka suatu awal yang tepat dengan mengintegrasikan sejumlah lembaga terkait menjadi sebuah Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Selain untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang komunikasi dan informatika, juga keberadaan Departemen ini untuk mengantisipasi perkembangan TIK ke arah konvergensi sektor telekomunikasi, media, dan teknologi informasi. Untuk itu, diperlukan sejumlah strategi dan kebijakan di bidang komunikasi dan informatika yang tepat untuk meletakkan dasar yang kuat untuk membangun knowledge-based society.

A. LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN TIK DI INDONESIA

Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki sekitar 17 ribu lebih pulau (6 ribu pulau berpenduduk) yang tersebar dalam area geografis 1.919.440 km2. di satu sisi kondisi ini merupakan suatu keuntungan yang besar bagi bangsa kita karena memiliki sumber daya yang besar, baik secara demografis maupun geografis. Jumlah pulau yang tersebar begitu banyak justru menjadi hambatan dalam proses pembangunan dan pengembangan TIK. Aspek tingginya biaya menjadi salah satu faktor penting sulitnya pembangunan dan pengembangan TIK hingga ke pelosok negeri, sehingga fokus pembangunan lebih banyak dititikberatkan pada wilayah-wilayah yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi seperti pulau Jawa dan sebagian Sumatra.

CCCCSelain itu, perkembangan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia masih belum memadai. Jumlah sambungan telepon tetap saat ini baru 8,7 juta atau dengan tingkat teledensitas kurang dari 4 persen. Sementara pemerintah menargetkan jumlah sambungan telepon per 100 penduduk sebesar 13% pada tahun 2009. Hal itu berkebalikan dengan penetrasi telepon seluler yang telah mencapai 22,8%. Sampai saat ini terdapat sekitar 43 ribu desa atau 65% desa yang belum terjangkau oleh jaringan telepon.

AAAAPresentase penetrasi internet baru mencapai 8,7% atau sekitar 20 juta pengguna, dan jumlah warnet baru mencapai angka 7.602 (AWARI, 2007) dengan 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah seluruh pengguna internet di Indonesia masih didominasi oleh daerah Jakarta dan sekitarnya. Yang memprihatinkan lagi adalah penetrasi personal computer (PC) baru mencapai 6,5 juta unit saja, dengan penjualan PC tahun 2007 diperkirakan mencapai 1.257.531 unit (International Data Center, 2006). Hal itu diperparah dengan penggunaan PC dan internet lebih banyak di perkantoran daripada di rumah (home user) dengan perbandingan 5:1. Investasi di sektor telekomunikasi di Indonesia berkisar pada Rp 50 triliun/tahun dimana industri dan jasa domestik hanya berkontribusi sebesar 2%.

Di sektor sumber daya manusia, jumlah perguruan tinggi (baik negeri maupun swasta) yang melaksanakan program informatika/komputer berjumlah 476 perguruan tinggi, bidang komunikasi berjumlah 136 perguruan tinggi, dengan lulusan per tahunnya sebanyak + 25.000 orang, dimana hal ini masih jauh dari kebutuhan secara nasional. Kondisi ini didukung oleh rata-rata partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan yang masih rendah. Terutama untuk 7-12 tahun dan 13-15 tahun hanya mencapai angka 95,26% dan 82,09% bahkan untuk tingkat perguruan tinggi hanya mencapai angka 13% (BPS, 2006).
Dari aspek hukum, Indonesia belum memiliki peraturan perundang-undangan yang komprehensif yang mengatur keberadaan TIK serta mengendalikan penggunaan TIK dalam koridor yang bisa dipertanggungjawabkan. Saat ini, RUU Informasi dan Transaksi Elektronik masih dalam tahap pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya akan disahkan menjadi Undang-Undang. Selain itu, perlu adanya revisi sejumlah peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan kondisi serta perkembangan TIK yang semakin konvergen. Saat ini UU Penyiaran dan UU Telekomunikasi merupakan dua domain yang terpisah sehingga belum mampu menjawab kebutuhan akan perkembangan TIK yang semakin konvergen nantinya.

Selain itu, ada sejumlah masalah yang masih mengganjal dalam mengembangkan TIK di Indonesia. Tetapi yang paling menonjol adalah banyaknya kegiatan atau program yang terkait dengan TIK yang tersebar di berbagai instansi pemerintah sehingga tidak adanya perencanaan yang sinergis dalam mendorong terwujudnya masyarakat informasi. Namun demikian yang terjadi adalah kurangnya koordinasi yang efektif di antara instansi pemerintah dalam mengembangkan serta mengarahkan pembangunan bidang TIK di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan konsolidasi nasional dalam menentukan arah pembangunan TIK serta langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk mewujudkan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.

B. PENGEMBANGAN DAN KEBIJAKAN TIK


Pembangunan dan pengembangan TIK perlu didukung oleh industri TIK yang berkompeten serta perangkat-perangkat pendukung lainnya. Pengembangan Technopark yang terintegrasi antar akademik dan industri TIK di Indonesia merupakan salah satu usaha pengembangan industri TIK. Selain itu dengan adanya Venture Capital untuk industri TIK diharapkan menjadi alternatif dalam menghadapi perkembangan teknologi konvergensi TIK yang meliputi telekomunikasi, komputer, elektronik, teknologi informasi, dan penyiaran. Tujuannya untuk mewujudkan situasi yang kondusif dalam mendukung bisnis industri TIK di Indonesia.
Kondisi itu perlu didukung oleh sejumlah perangkat pendukung terutama perangkat hukum yang menaunginya. UU ITE dan UU Konvergensi TIK sebagai perangkat hukum yang tidak hanya melindungi industri TIK tetapi juga melindungi semua kepentingan umum. Selain itu, diharapkan perlunya regulasi TIK lintas industri terkait yang efektif dan efisien.

Dewan TIK Nasional
Kebijakan teknologi pendidikan dalam periode orde baru digariskan dalam PELITA I (1969/70 – 1973/74). Dalam rumusan Program Pendidikan ditetapakn untuk “... digunakan media massa: radio dan televisi untuk peningkatan mutu sekolah dasar” (RI, 1970: 361). Memang hingga saat itu konsepsi teknologi pendidikan masih belum banyak dikenal dan dikembangkan, bukan saja di Indonesia melainkan juga di mancanegara.

Agar semua proses dari setiap komponen blueprint tersebut bisa berjalan efektif, perlu suatu adanya e-leadership yang mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan lintas departemen. Selain itu perlunya dukungan profesional untuk merumuskan kebijakan dan mengkomunikasikan ke semua stakeholders. Atas dasar itulah, Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas) didirikan.
Berdasarkan Keppres No. 20 Tahun 2006, DeTIKNas bertugas :
a. Merumuskan kebijakan umum dan arahan strategis pembangunan nasional melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi
b. Melakukan pengkajian dalam menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam rangka pengembangan teknologi informasi dan komunikasi
c. Melakukan koordinasi nasional meliputi dengan instansi Pemerintah Pusat/Daerah, Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik/Daerah, Dunia Usaha, Lembaga Profesional, dan komunitas teknologi informasi dan komunikasi, serta masyarakat pada umumnya
d. Memberikan persetujuan atas pelaksanaan program teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat lintas departemen agar efektif dan efisien.

Selain itu, DeTIKNas menentukan Program Flagship, yaitu suatu program TIK yang menjadi fokus nasional, yaitu program yang memiliki dampak besar pada pemerintah, masyarakat, internasional, dan least political resistance. Program ini diambil satu dari tiap komponenblueprint TIK. Meskipun demikian, bukan berarti program yang lain tidak berjalan, namun program Flagship ini nantinya akan menjadi dasar dari pengembangan program-program TIK lainnya sehingga lebih terarah dan berdaya guna.


C. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di Indonesia dimulai sejak tahun 1975 dengan dioperasikannya SKSD Palapa. Perkembangan itu dipicu lebih lanjut dengan diresmikannya “Nusantara 21” oleh Presiden RI pada tanggal 27 Desember 1996. Konsep N-21 ini merupakan jawaban atas tantangan globalisasi komunikasi dan informasi, berupa ja-ringan komunikasi terpadu. N-21 menggunakan kerangka pendekatan, antara lain :
a. Memanfaatkan semua teknologi yang dapat mendukung pembangunan disemua sektor
b. Membentuk suatu jaringan maya informasi atau adimarga informasi (virtual in-formation network atau information super highway) yang menghubungkan selu-ruh pelosok tanah air.
Dengan dikembangkannya N-21 maka pada tahun 2000 atau memasuki abad 21 se-luruh kecamatan di Indonesia akan mempunyai akses ke semua teknologi komunikasi dan komputer (K-2) dakam suatu jaringan terpadu, yang didukung oleh 11 sistem satelit komuni-kasi. Sekarang ini baru ada 3 sistem yang beroperasi, yaitu PSN dengan Palapa 1, Telkom dengan Palapa B4 dan B2r, dan Satelindo dengan Palapa C1 dan C2. Pengembangan infra-struktur fisik ini mengandung tiga kemungkinan penggunaan, yaitu:
1. Adiguna Marga Kepulauan (Archipelagic uper Highway)
2. Kota Multimedia (Multimedia Cities)
3. Nusantara Multimedia Community Access Centers (Pusat Akses Masyarakat Mul-timedia Nusantara)
Di kalangan pemerintah maupun masyarakat umum melalui berbagai jaringan yang ada, pada tahun 1996 ini telah beroperasi : IPTEKNET, SISKOM DAGRI, DEPERINDAG ONLINE, INFORIS, TELKOM-SISFONET, Frame Relay LINTAS-ARTA, WASANTARA-NET, ITB-NET, INDONET, RADNET, SISTELINDO, IBM-NET, IDOLANET.CBNNET, MELSANET, INDOSATNET, TELKOM RISTINET, MITRANET, MEGANET, dan beberapa jaringan (sistem simpul dan distribusi informasi) yang akan terus bermunculan. Dengan terjalinnya ‘network of networks’ tersebut di atas infrastuktur jaringan Nusantara aplikasi pendidikan dapat dilakukan.
Pada saat ini pengembangan perangkat keras masih mengalami kendala, karena se-bagiaan besar komponen masih diimpor dari mancanegara. Sebagai akibatnya maka harga perangkat keras itu sangat tinggi dibandingkan dengan kemampuan rata-rata keluerga In-donesia untuk membeli. Kecuali itu kemajuan dalam teknologi berlangsung sedemikian ru-pa, sehingga dalam waktu yang singkat peralatan yang ada sudah ketinggalan zaman.

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Teknologi Komunikasi & Informasi

Blueprint TIK Indonesia

Untuk menentukan arah pembangunan bidang TIK di Indonesia, perlu menetapkan blueprint (cetak biru) dan roadmap agar setiap langkah pengembangan TIK menjadi lebih terarah dan sinergis. Blueprint dan roadmap tersebut sangat diperlukan untuk menentukan arah perkembangan dan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan. Ada 4 (empat) komponen penting dalam menentukan blueprint TIK Indonesia :

1. Infrastruktur TIK
Saat ini pembangunan infrastruktur TIK masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan TIK Indonesia. Dari tahun ke tahun tingkat kebutuhan infrastruktur TIK semakin tinggi, namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembangunan infrastruktur itu sendiri (lihat Tabel 1).

Tabel 1.
Perkiraan Kebutuhan Infrastruktur
Telekomunikasi dan Informatika
AkhirTahun Sambungan Tetap STB Internet Multimedia*
Kapasitas Penetrasi Pelanggan(KapasitasTerpakai) Penetrasi Pelanggan(juta) Pelanggan(juta)
2006 10.454.115 4,6 33.303.941 14,59 4,371 3,637
2007 11.594.976 5,0 38.622.073 16,70 5,863 4,866
2008 12.963.259 5,5 43.940.204 18,76 7,680 6,363
2009 14.591.029 6,1 49.258.336 20,76 9,853 8,153
2010 16.510.494 6,9 54.576.467 22,71 12,417 10,265
2011 18.753.716 7,7 59.894.599 24,62 15,403 12,725
2012 21.352.879 8,7 65.212.730 26,48 18,847 15,562
2013 24.340.042 9,8 70.530.862 28,29 22,779 18,801
2014 27.747.373 11,0 75.848.993 30,06 27,233 22,471
2015 31.607.041 12,4 81.167.125 31,79 32,243 26,598
Sumber : Demand Forecast Ditjen Postel, 2002.

Untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur tersebut, perlu sejumlah program pembangunan infrastruktur yang terarah. Berikut ini adalah beberapa program pembangunan infrastruktur TIK yang saat ini sedang dan akan dilaksanakan:

a. Universal Service Obligation (USO)
Program USO atau Kewajiban Kontribusi Pelayanan Universal Telekomunikasi merupakan penyediaan akses dan layanan telekomunikasi di daerah terpencil, perintisan, atau daerah perbatasan. Sumber pendanaan pokok berasal dari kontribusi 0,75% dari annual gross revenue seluruh penyelenggara telekomunikasi. Diharapkan dari program ini pada tahun 2010 seluruh desa di Indonesia telah memiliki minimal 1 (satu) jalur telepon. Sedangkan tahun 2015 ditargetkan 50% (lima puluh persen) desa di seluruh Indonesia sudah bisa mengakses internet.
b. Palapa Ring Project
Terkait juga dengan pengembangan jaringan infrastruktur telekomunikasi, pemerintah tengah mengusahakan untuk pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring sebagai tulang punggung (backbone) bagi sistem telekomunikasi nasional. Palapa Ring merupakan jaringan kabel bawah laut berbentuk cincin terintegrasi yang membentang dari Sumatera Utara hingga Papua bagian barat yang panjangnya sekitar 25.000 km. dengan terwujudnya jaringan serat optik Palapa Ring, maka aliran komunikasi dan informasi akan semakin tersebar merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terobosan luar biasa ini akan membuka hambatan informasi (information barrier) di daerah Indonesia timur yang diharapkan mampu memacu pertumbuhan perekonomian di daerah tersebut.

c. Penyelenggaraan Broadband Wireless Access
Program ini merupakan salah satu usaha pemerintah untuk membangun jariangan infrastruktur komunikasi dan informasi. Dengan pembeabsan ijin pita frekuensi 2,4 GHz, diharapkan mampu meningkatkan dan memasyarakatkan penggunaan internet di Indonesia serta menekan biaya akses internet yang masih terbilang mahal dibandingkan negara lain.

2. E-edukasi
Pembangunan dan pengembangan e-edukasi sebagai pendukung perkembangan TIK di Indonesia dirasa masih belum memadai. Selain masih rendahnya rata-rata partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan, namun juga kesadaran masyarakat akan pentingnya TIK adalah menjadi salah satu faktor utamanya. Untuk itu perlu adanya sejumlah program pengembangan e-edukasi di Indonesia, di antaranya :

a. Standar Kompetensi Profesi SDM TIK
Tingginya permintaan pasar akan profesi TIK di Indonesia mendorong perlunya standar kompetensi profesi yang baku bagi sumber daya manusia di bidang TIK. Standar kompetensi ini diperlukan untuk menjaga kualitas agar mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Untuk itu perlu adanya kerjasama dari berbagai stakeholders agar dapat merumuskan standar kompetensi profesi SDM TIK yang tepat bagi kebutuhan pasar industri.

b. Kampanye Penggunaan Internet untuk Pendidikan
Walaupun jumlah pengguna internet maupun jumlah internet domains di Indonesia meningkat secara tajam, namun pemanfaatan internet untuk pembelajaran masih terbatas. Selain pola belajar masih menggunakan pola konvensional, namun juga karena adanya keterbatasan sarana dan prasarana yang menunjang penggunaan internet untuk pendidikan, seperti kurangnya ketersediaan komputer di sekolah, tidak adanya akses telekomunikasi yang memadai, serta masih mahalnya biaya akses internet. Diharapkan sebagian besar perguruan tinggi dan sekolah terhubung internet dan literasi TI sebagai bagian dari Masyarakat Berbasis Informasi.

c. Pengembangan Software Pendidikan
Dengan mengembangkan software pendidikan akan meningkatkan pemerataan materi pendidikan dan kompetensi yang baik bagi para pelajar. Program ini mengimplementasikan sistem pembelajaran dengan menggunakan software sebagai alat bantu guna memberikan kemudahan dalam proses belajar-mengajar, baik bagi para pelajar dan khususnya para pengajar dalam menyampaikan material kepada para anak didik. Diharapkan sebagian besar sekolah di Indonesia dapat menggunakan alat bantu software pendidikan sebagai salah satu alat bantu mengajar.

3. Beberapa Program Aksi
Pemanfaatan TTI dalam pendidikan merupakan sesuatu yang imperatif, karena tanpa itu pendidikan kita akan senantiasa ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangga, apalagi dengan negara maju. Namun peerlu disadari bahwa karena keterbatasan sumber daya, khususnya dana, pemanfaatan itu tidak dapat dilakukan secara menyaluruh dalam semua sektor pendidikan. Pengembangan program aksi dilakukan melalui melalui proyek perintiisan dan atau percontohan.
Sasaran pokok program aksi adalah peeningkatan mutu proses dan keluaran pendi-dikan, dengan tekanan pada proses yang efektif dan efisien serta keluaran yang sesuai den-gan kebutuhan pembangunan. Pemulihan proyek perintisan atau percontohan didasarkan pada kriteria :
• Posisi kritikal dari program: kesediaan pimpinan lembaga pemdidikan, kese-diaan guru, dukungan orang tua, dan partisipasi masyarakat dalam peman-faatan TTI untuk pendidikan merupakan sesuatu yang kritikal, karena tanpa itu semua, apa pun yang akan dilakukan tidak akan berhasil.
• Dukungan teknologi dan infrastruktur pada “users’ end”: tidak dilakukan pembangunan secara khusus mulai dari awal, melainkan memanfaatan dan meningkatkan apa yang sudah ada.
• Kesiapan kelembagaan: telah tersedia orang, organisasi, program, dan alokasi dana (meskipun terbatas) yang bertanggung jawab dalam menyelengarakan kegiatan.

Berdasarkan sasaran dan kriteria program aksi tersebut, maka berikut ini disajikan serangkaian program aksi yang diusulkan.





Program Aksi I : Pelatihan Tenaga

Tujuan program ini adalah:
1) Mendapatkan sejumlah tenaga yang mampu menangani perkembangan perangkat lunak TTI
2) Memperoleh paket program pelatihan untuk berbagai bidang ketrampilan yang da-pat digunakan bersama

Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
1) Mengadakan penelusuran kebutuhan latihan
2) Merancang program latihan khusus
3) Menentukan kriteria dan memilih peserta latihan
4) Melaksanakan pelatihan dan memonitor jalannya pelatihan

Program Aksi II : Pengembangan Jaringan

Tujuan program ini adalah:
1)Memperoleh informasi lengkap tentang berbagai lembaga yang sudah mengem-bangkan penggunaan TTI, termasuk semua produk yang telah dihasilkan
2)Terbentuknya aliansi atau kerja sama untuk menghindarkan pemborosan dengan menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan fasilitas bersama.

Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
1)Mengadakan inventarisasi lembaga-lembaga pendidikan yang telah menyelenggara-kan/mengembangkan program ITI
2)Mengadakan rapat koordinasi untuk pembentukan jaringan komunikasi dan kerja sa-ma
3)Dibangunanya unit layanan informasi
4)Penyusunan rencana kerja yang dapat dilakukan bersama

Program Aksi III : Penataran Guru/Dosen/Pengajar

Tujuan program ini adalah:
1)Terlatihanya tenaga kependidikan (guru, kepala sekolah, pemilik administator, do-sen, pengajar, widyaiswara)
2)Timbulnya komitmen para pengelola lembaga/program pendidikan dan pelatihan terhadap model-model pembelajaran berbasis jaringan
3)Meningkatkanya kemampuan guru, dosen dan tenaga pengajar untuk merancang dan menyelenggarakan program pembelajaran dengan, menintrergrasikan bahan-bahan pembelajaran berbasis jaringan ke dalam program pembelajaran mereka
4)Terbentuknya forum dan kesempatan pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta produk pembelajaran antara sesama sejawat
5)Masuknya materi pengenalan model pembelajaran berbasis jaringan dalam setiap kegiatan pendidikan prajabatan dan penataran guru
6)Tersediahnya sejumlah tenaga penatar pada tiap LPTK dan PPG/BPG yang mampu melatih rekan-rekanya mengenai pemanfaatan TTI

Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
1)Menelurusi kebutuhan pendidikan/pelatihan dalam rangka aplikasi pembelajaran berbasis jaringan
2)Mengembangkan serangkaian program pendidikan/pelatihan pembuatan paket-paket pendidikan/pelatihanya
3)Mengembangkan program multimedia dan model-model pembelajaran berbasis ja-ringan dalam berbagai subjek dan jenjang
4)Menyelenggarakan acara sosialisasi aplikasi TTI kepada lembaga pendidi-kan/pelatihan
5)Mengusahakan sponsor dan partner dalam pengembangan, produksi, dan peman-faatan program pembelajaran berbasis jaringan
6)Memperjuangkan kemudahan bagi lembaga-lembaga pendidikan/pelatihan untuk mengadopsi program pembelajaran berbasis jaringan
7)Membentuk tim kordinasi untuk penyelenggaraan penataran
8)Penyusunan Buku Petunjuk Operasional bagi para guru mengenai pembelajaran ter-buka dengan komputer akses Internet dan LAN

Program Aksi IV : Pendidikan Luar Sekolah

Tujuan program ini adalah :
1)Tersusunya suatu kebijakan mengenai pola pemanfaatan TTI di sekolah pada semua jenjang
2)Terselenggaranya proyek-proyek perintisan penggunaan TTI di sepuluh kota (Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Semarang Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Denpasar, dan Ujung pandang), sekarang sekurang-kurangnya dua Sekolah Dasar, dua SLTP, dua SMU dan dua SMK untuk tiap kota
3)Terbina dan terkoordinasikannya proyek-proyek perintisan penggunaan TTI di seko-lah. Baik atas usaha swadaya maupun proyek yang dibiayai dari anggaran pemban-gunan
4)Terbentuknya perpustakaan elektronik untuk berbagai jenjang dan jenius sekolah
5)Tersedianya bahan-bahan belajar multimedia, yang dapat digunakan untuk belajar secara interaktif
6)Terbentuknya model-model penggunaan TTI di sekolah, termasuk kebijakan pengelo-laan, konfigurasi peralatan, pengembangan dan adaptasi program pembelaja-ran/perangkat lunak, pengembangan kurikulum, serta pelatihan guru

Kegiatan yang oerlu dilakukan meliputi :
1)Menginventarisasi program dan kegiatan yang telah diluncurkan baik oleh swasta maupun pemerintah, mengenai penggunaan TTI untuk sekolah
2)Menginventarisasi sekolah-sekolah, baik yang atas prakarsa sendiri maupun yang di-jadikan ajang perintisan proyek pembangunan, yang telah menggunakan TTI
3)Mengamati dengan cermat beberapa program/kegiatan yang terpilih untuk dikem-bangkan sebagai model untuk disebarkan
4)Membangun jaringan kerja sama dan koordinasi antar-sekolah yang bersangkutan
5)Mengembangkan paket belajar yang sesuai dan atau terkait dengan kurikulum seko-lah, dalam bentuk multimedia yang interaktif
6)Menyusun Buku Pola Panduan Operasional Penggunaan TTI di sekolah
7)Merumuskan butir-butir usulan kebijakan (nasional, strategik, maupun operasional) yang diharapkan dapat digunakan sebagai pegangan bagi pejabat/petugas di lapan-gan

Program Aksi V : Pendidikan Tinggi

Tujuan program ini adalah:
1)Tersusunya informasi lengkap tentang program-program pembelajaran berbasis TTI yang dikembangkan oleh perguruan tinggi
2)Terselenggaranya pertemuan koordinasi antarperguruan tinggi pengembang pro-gram penggunaan TTI
3)Diperolehnya kemduahan bagi tiap perguruan tinggi untuk memperoleh akses ter-hadap program pembelajaran yang telah dikembangkan
4)Tersusunya model sistem pembelajaran berbasis TTI, termasuk kebijakan pengelo-laan, konfigurasi, dan spesifikasi peralatan, pengembangan dan adaptasi program pembelajaran/perangkat lunak, pengembangan kurikulum, serta pelatihan dosen

Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi :
1)Meninvetarisasikan dan mendeskripsikan program-program pembelajaran berbasis TTI yang dikembangkan oleh perguruan tinggi
2)Mengembangkan jaringan (webserver dengan domain sendiri), yang dapat diguna-kan sebagai sumber informasi mengenai program-program pembelajaran yang di-kembangkan dan untuk diskusi
3)Melaksanakan pelatihan tenaga secara bersama, baik untuk perancangan dan pro-duksi program, maupun untuk mengembangkan kurikulum dan mengelola kegiatan pembelajaran
4)Mengusahakan akses atas program-program jadi dari luar negeri, terutama yang da-pat diperoleh tanpa atau dengan biaya murah
5)Mengusahakan sponsor dan mitra untuk kegiatan pengembangan
6)Mengusahakan pembakuan atau sekurang-kurangnya kompatibilitas sistem opera-sional dan peralatan untuk digunakan dalam proses pembelajaran

Program Aksi VI : Pendidikan Kedinasan dan Profesional

Tujuan program ini adalah :
1)Terbentuknya jaringan telematika untuk keperluan pendidikan dan pelatihan terbuka
2)Tersedianya tenaga pengembang program dan pelaksana lapangan (ahli teknologi pendidikan dan teknisi sumber belajar)
3)Terbentuknya perpustakaan elektronik yang dapat diakses oleh semua lembaga dik-lat
4)Tersedianya paket pelatihan dasar “melek TTI” untuk digunakan oleh semua lembaga pelatihan
5)Didayagunakanya surat elektronik antara sesama lembaga diklat
6)Terbentuknya homepage pada semua lembaga diklat
7)Tersedianya sarana dan peralatan untuk dapat dimanfaatkan oleh lebih dari satu ke-lompok sasaran

Kegiatan yang perlu dilakukan meliputi:
1)Mensosialisasikan pemanfaatan TTI kepada semua pimpinan dan karyawan lembaga diklat
2)Mengembangkan jaringan (webserver dengan domain sendiri), yang dapat diguna-kan sebagai sumber informasi mengenai program-program pembelajaran yang di-kembangkan dan untuk diskusi
3)Melaksanakan pelatihan tenaga secara bersama, baik untuk perancangan dan pro-duksi program, maupun untuk mengembangkan kurikulum dan mengelola kegiatan pembelajaran
4)Mengusahakan akses atas program-program jadi dari luar negeri, terutama yang da-pat diperoleh tanpa atau dengan biaya murah
5)Mengusahakan sponsor dan mitra untuk kegiatan pengembangan
6)Mengusahakan pembakuan atau sekurang-kurangnya kompatibilitas sistem opera-sional dan peralatan untuk digunakan dalam proses pembelajaran.

4.E-Government
Dalam rangka membangun e-government di institusi pemerintahan, secara formal e-government di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2003 saat diterbitkannya Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government melalui Inpres No. 3 Tahun 2003 yang merupakan payung bagi kebijakan di bidang e-government. Ada sejumlah langkah-langkah yang diambil, yaitu :

a.Rencana Legalisasi Software Pemerintah
Langkah tersebut diambil untuk menekan angka pembajakan software di instansi pemerintah. Selain itu juga dampak dari legalisasi tersebut mendorong penggunaan software berbasis open source yang relatif lebih murah sehingga mampu menurunkan biaya belanja untuk pengadaan software. Jumlah pembajakan berkurang (Pemerintah: 0%, Nasional : 65%) dan meningkatkan citra positif Indonesia di mata internasional.

b.E-procurement
Dengan adanya proses pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintah melalui e-procurement, diharapkan proses pengadaan barang dan jasa menjadi lebih efektif, efisien, transparan, serta mampu menekan perilaku-perilaku KKN yang kerap kali terjadi. Saat ini, proses pengadaan barang dan jasa melalui internet masih dalam tahap e-announcement (pengumuman melalui situs).

c.National Single Window
National Single Window diterapkan untuk integrasi semua layanan pemerintah lintas departemen dalam satu pintu sehingga lebih efisien.National Single Window menyediakan layanan perdagangan ekspor dan impor dalam satu kanal website pemerintah yang mencakup proses pengurusan bea cukai, pengiriman, transfer bank, asuransi, perizinan, dan sebagainya. Intinya, adanya integrasi semua layanan pemerintah lintas departemen dalam satu pintu. Tujuannya adalah peluang ekspor dan impor lebih besar dan proses lebih cepat serta mempercepat pergerakan perekonomian Indonesia.

KESIMPULAN

Dalam pelaksanaannya, pengembangan sektor TIK akan dilakukan secara sinergi dan terintegrasi dengan pengembangan sektor-sektor lain seperti sektor ekonomi, sosial, pendidikan, riset dan teknologi, pertanian, pertambangan, perdagangan, industri, dan sebagainya. Untuk itu, selain perencanaan strategi dan kebijakan yang tepat, juga diperlukan e-leadership yang kuat dalam menerapkan setiap perencanaan yang telah dibuat secara matang. Untuk itu, dukungan aspek kelembagaan yang mengatur tugas dan fungsi masing-masing sektor akan menjadi penentu keberhasilan pembangunan bidang TIK serta bidang komunikasi dan informatika secara umum.



DAFTAR PUSTAKA

Miarso, Yusufhadi (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekom
Diknas bersama Prenada Media
A.Djalil, Sofyan (Menteri Negara BUMN Republik Indonesia 2006). www.depkominfo.go.id Jakarta

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, Komunikasi antara budaya belum secara serius mendapatkan tempat sebagai suatu kajian penting, sehingga sampai saat ini masih sulit ditemui buku yang menjelaskan secara lengkap tentang definisi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Padahal komunikasi antar budaya di Indonesia sangatlah penting karena pada kenyataannya kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia sangatlah heterogen yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, agama, ras, budaya, dan istiadat. Sebagaimana dituangkan dalam semboyang Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda tetapi tetap satu. Lebih dari 350 bahasa daerah berkembang di Indonesia dan ratusan etnis tersebar diberbagai wilayah. Kehidupan majemuk bangsa Indonesia yang kompleks ditandai dengan kenyataan latar belakang social budaya etnis yang berbeda-beda. Dengan kenyataan tersebut tidaklah mudah bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan suatu integrasi dan menghindari konflik atau bahkan perpecahan (DeVito 1997).
Komunikasi antar budaya kala menjadi semakin penting karena meningkatnya mobilitas orang diseluruh dunia, saling ketergantungan Ekonomi diantara banyak Negara, kemajuan Teknologi Komunikasi, perubahan pola imigrasi dan politik membutuhkan pemahaman atas kultur yang berbeda-beda (DeVito 1997). Komuniasi antara budaya sendiri lebih menekankan aspek utama yakni komunikasi antar pribadi diantara Komunikator dan Komunikan yang kebudayaannya berbeda (Mulyana 1990) .

1.2 Rumusan Masalah
Dalam kesempatan kali ini saya akan memaparkan poin-poin tersebut di bawah ini :
1. Apa-apa saja Dimensi Komunikasi antar Budaya ?
2. Bagaimana Hubungan Tmbal Balik antara Komunikasi dengan Kebudayaan ?
3. Seperti apa Unsur-unsur Kebudayaan ?
4. Bagaimana Fungsi dan Peranan Persepsi Dalam Komunikasi Antar Budaya ?
5. Seperti apa Dimensi-dimensi Persepsi Dalam Komunikasi Antar Budaya ?
1.3 Tujuan 
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yang terjadi diantara dua orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda berarti mereka memiliki perbedaan kepribadian dan persepsi terhadap relasi antar pribadi. Ketika A dan B dengan budaya yang berbeda bercakap-cakap itulah yang disebut Komunikasi antar Budaya karena dua pihak “menerima” perbedaan diantara mereka sehingga bermanfaat untuk menurunkan tingkat ketidakpastian dan kecemasan dalam relasi antar pribadi.

1.4 Manfaat
Dengan adanya penulisan makalah ini, saya sangat mengharapkan membawa manfaat besar terutama bagi saya calon-calon sarjana pendidikan Indonesia. Dan didalam makalah ini setiap pembaca dapat memperoleh manfaat tentang komunikasi antar budaya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penjelasan
Komunikasi antar budaya adalah seni untuk memahami dan dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain. (Sitaram, 1970). Komunikasi bersifat budaya apabila terjadi diantara orang-orang yang berbeda kebudayaan. (Rich, 1974). Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, kebiasaan. (Stewart, 1974). Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena komunikasi di mana para pesertanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu kontak antara satu dengan lainnya, baik secara langsung atau tidak langsung. (Young Yung Kim, 1984)
Dari defenisi tersebut nampak jelas penekanannya pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Karena itu dua konsep terpenting di sini adalah kontak dan komunikasi merupakan ciri yang membedakan studi Komunikasi Antar-Budaya dari studi-studi antropologi dan psikologi lintas budaya yang berupaya mendeskripsikan kebudayaan-kebudayaan antarbudaya. Komunikasi Budaya ditentukan oleh komunikasi sosial dan pemikiran yang ada dalam budaya, tetapi pada umumya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan peradaban.
Sejauh ini upaya pemerhati Komunikasi Antar-Budaya lebih banyak diarahkan pada aspek intracultural atau pun crosscultural, buakan studi-studi intercultural dari komunikasi. Sebagaimana tradisi penelitian antropologi dan psikologi lintas budaya (cross-cultural psycology), kebanyakan dari kegiatan penelitian memusatkan perhatian pada ; pola-pola komunikasi dalam kebudayaan-kebudayaan tertentu, studi komparatif lintas budaya mengenai fenomena-fenomena komunikasi.
2.2 Dimensi Komunikasi Antar Budaya
Untuk mencari kejelasan dan mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan dalam konteks Komunikasi Antar-Budaya, ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan:
1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan;
2. Konteks sosial tempat terjadinya Komunikasi Antar-Budaya
3. Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan Komunikasi Antar-Budaya (baik yang verbal maupun non-verbal).
Dimensi pertama menunjukan bahwa istilah kebudayaan telah digunakan untuk merujuk pada macam-macam tingkat lingkupan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya istilah kebudayaan mencakup beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Kawasan di dunia, misalnya; budaya Timur, budaya Barat.
2. Subkawasan-kawasan di dunia, budaya Amerika Utara, Asia Tenggara.
3. Nasional/negara, misalnya budaya Indonesia, budaya Perancis, budaya Jepang.
4. Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negeri seperti, Cina, Jawa, Negro
5. Macam-macam subkelompok sosiologis berdasarkan kategori jenis kelamin, kelas sosial (budaya hippiis, budaya kaum gelandangan, budaya penjara)
Dimensi kedua menyangkut Konteks Sosial, meliputi bisnis, organisasi, pendidikan, akulturasi imigran politik, konsultasi terapi, dan sebagainya. Komunikasi dalam semua konteks sosial tersebut pada dasarnya memilih persamaan dalam hal unsur-unsur dasar an proses komunikasi (misalnya menyangkut penyampaian, penerimaan dan pemrosesan). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latarbelakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran, penggunaan pesan-pesan verbal dan non-verbal serta hubungan-hubungan antaranya. Maka variasi kontekstual misalnya; komunikasi antara orang Indonesia dengan Jepang dalam suatu transaksi dagang akan berbeda dengan interaksi dalam peran sebagai dua orang mahasiswa. Dengan demikian, konteks sosial memberikan tempat khusus pada para partisipan, hubungan-hubungan antarperan, ekspektasi-ekspektasi, norma-norma dan aturan tingkah laku yang khusus.
Dimensi ketiga berkaitan dengan saluran komunikasi. Dimensi ini menunjukan tentang saluran apa yang dipergunakan dalam Komunikasi Antar-Budaya. Secara garis besar saluran dapat dibagi atas:
1. Antarpribadi
2. Media massa
3. Bersama-sama dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga mempengaruhi proses dan hasil keseluruhan dari Komunikasi Antar-Budaya. Misalnya orang Indonesia menonton melalui TV keadaan kehidupan di Afrika, akan memiliki pengalaman yang berbeda dengan keadaan, apabila ia sendiri berada di sana dan melihat dengan keala sendiri. Umumnya pengalaman antarpribadi dianggap dapat memberikan dampak yanng lebih mendalam.
Ketiga dimensi di atas dapat digunakan secara terpisah ataupun bersamaan, dlam mengklasifikasi fenomena Komunikasi Antar-Budaya. Misalnya kita dapat mengambarkan komunikasi antara presiden Indonesia dengan dubes baru dari Nigeria sebagai komunikasi internasional, antarpribadi dalam konteks politik. Maka apapun tingkat keanggotaan kelompok konteks sosial dan saluran komunikasi, komunikasi dianggap antarbudaya apabila para komunikator yang menjalin kontak dan interaksi mempunyai latarbelakang pengalaman budaya berbeda.
2.3 Hubungan Timbal Balik antara Komunikasi dengan Kebudayaan
Unsur-unsur pokok yang mendasari proses komunikasi antarbudaya adalah konsep-konsep tentang ‘kebudayaan’ dan ‘komunikasi’. Hal ini ditekankan oleh Sarbaugh (1979) yang menyatakan bahwa pengertian tentang komunikasi antarbudaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep komunikasi dan kebudayaan serta adanyasaling ketergantungan antar keduanya. Saling ketergantungan ini dapat terbukti apabila disadari bahwa:
1. Pola-pola komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu keompok kebudayaan tertentu;
2. Kesamaan tingkah laku antara satu generasi dengan generasi berikutnya hanya dimungkinkan berkat digunakannya sarana-sarana komunikasi.
Sementara Smith (1966) menerangkan hubungan yang tidak terpisahkan antara komunikasi dan budaya sebagai berikut:
1. Kebudayaan meruakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama.
2. Untuk mempelajari dan memiliki bersama diperlukan komunikasi, sedangkan komunikasi memerlukan kode-kode dan lambang-lambang yang harus dipelajari dan dimiliki bersama.
Untuk lebih mengerti hubungan komunikasi dengan kebudayaan bisa ditinjau dari sudut pandang perkembangan masyarakat, perkembangan kebudayaan, dan peranan komunikasi dalam proses perkembangan tersebut. Perkembangan mencerminkan hubungan terus menerus dan berlangsung dan di mana simbol dan lambang berlangsung dalam proses resiprokal (timbal-balik) antara orang-orang didalamnya.
2.4 Unsur-unsur Kebudayaan
Karena kebudayaan memberikan identitas pada sekelompok manusia, maka muncul suatu persoalan yakni bagaimana cara kita mengidentifikasi aspek-aspek atau unsur-unsur kebudayaan yang membedakan satu kelompok masyarakat budaya dari kelompok masyarakat budaya lainnya. Samovar (1981) membagi berbagai aspek kebudayaan kedalam tiga pembagian besar unsur-unsur sosial budaya yang secara langsung sangat mempengaruhi penciptaan makna untuk persepsi, yang selanjutnya menentukan tingkah laku komunikasi.
Pengaruh-pengaruh terhadap komunikasi ini sangat beragam dan mencakup semua segi kegiatan sosial manusia. Dalam proses Komunikasi Antar-Budaya unsur-unsur yang sangat menentukan ini bekerja dan berfungsi secara terpadu bersama-sama seperti komponen dari suatu sistem stereo, karena masing-maasing saling membutuhkan dan berkaitan. Tetapi dalam penelaahan, unsur-unsur tersebut dipisah-pisahkan agar dapat diidentifikasi dan ditinjau secara satu persatu. Unsur-unsur sosial budaya tersebut adalah:
1. Sistem keyakinan, nilai dan sikap.
2. Pandangan hidup tentang dunia.
3. Organisasi sosial.
Pengaruh ketiga unsur kebudayaan tersebut pada makna untuk persepsi terutama pada aspek individual dan subjektifnya. Kita semua mungkin akan mlihat suatu obbjek atau peristiwa sosial yanng sama dan memberikan makna objektif yang sama, tetapi makna individualnya tidak mustahil akan berbeda. Misalnya orang Amerika dengan Arab sepakat menyatakan seseorang wanita berdasarkan wujud fisiknya. Tetapi kemungkinan besar keduanya akan berbeda pendapat tentang bagaimana wanita itu dalam makna sosialnya. Orang Amerika memandang nilai kesetaraan antara pria dengan wanita, sementara orang Arab memendang wanita cenderung menekankan wanita sebagai ibu rumah tangga.
2.5 Fungsi dan Peranan Persepsi Dalam Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi Antar Budaya bertujuan menciptakan persamaan diantara orang-orag dari dua budaya yang berbeda. Selain menjadi tingkah laku yang diajarkan, Komunikasi berfungsi sebagai alat untuk mensosialisasikan nilai-nilai budaya kepada masyarakatnya melalui komunikasi baik secara lisan, tertulis, maupun pesan nonverbal. Persepsi individu mengenai dunia sekelilingnya, orang, benda, dan peristiwa mempengaruhi berlangsungnya Komunikasi Antar-Budaya. Pemahaman dan penghargaan akan perbedaan persepsi diperlukan jika ingin meningkatkan kemampuan menjalin hubungan dengan orang yang berbeda budaya. Kita harus belajar memahami referensi perseptual mereka, sehingga kita akan mampu memberikan reaksi yang sesuai dengan ekspektasi dalam budaya mereka. Karenanya pengertian secara umum tentang persepsi diperlukan sebagai landasan memahami hubungan antara kebudayaan dan persepsi.
Persepsi merupakan proses internal yang dilalui individu dalam menseleksi, dan mengatur stimuli yang datang dari luar. Secara sederhana persepsi dapat dikatakan sebagai proses individu dalam melakukan kontak/hubungan dengan dunia sekelilingnya. Dengan cara mendengar, melihat, meraba, mencium dan merasa kita dapat mengenal lingkungan dan sadar apa yang terjadi di luar diri kita. Apa yang terjadi sebenarnya ialah bahwa kita menciptakan bayang-bayang internal tentang objek fisik dan sosial serta peristiwa-peristiwa yang dihadapi dalam lingkungan. Dalam hal ini masing-masing individu berusaha untuk memahami lingkungan melalui pengembangan struktur, stabilitas, dan makna bagi persepsinya. Pengembangan ini mencakup kegiatan-kegiatan internal yang mengubah sistem stimuli menjadi impuls-impuls (rangsangan) yang bergerak melalui sistem syaraf ke otak, serta mengubahnya lagi ke dalam pengalaman-pengalaman yang bermakna. Kegiatan internal perseptual ini dipelajari. Setiap orang lahir sudah dengan alat-alat fisik yang penring bagi persepsi, seperti halnya dengan alat untuk mampu berjalan. Dalam hal ini orang haru belajar untuk mencapai kemampuan tersebut. Secara umum proses persepsi melibatkan tiga aspek :
1. Struktur
Jika kita menutup mata, memalingkan muka dan dan kemudian membuka mata, kita akan melihat lingkungan yanng terstruktur dan terorganisasikan. Apa yang kita hadapi mempunyai bentuk, ukuran, tekstur, warna, intensitas, dan lain-lain. Bayangan kita mengenai lingkungan merupakan hasil dari kegiatan kita secara aktif memproses informasi, yang mencakup seleksi dan kategorisasi input/masukan. Kita mngembangkan kemampuan membentuk struktur ini dengan mempelajari kategorisasi-kategorisasi untuk memilah-milah stimjulasi eksternal.
Kategorisasi untuk mengkalsifikasikan lingkungan ini dapat berbeda-beda antara orang yang satu dengan lainnya. Kategori tergantung pada sejarah pengalaman dan pengetahuan kita. Misalnya kata ‘rumah’ konsep fisiknya akan berbeda antara orang asia dengan orang eskimo.
Objek-objek sosial dan fisik juga akan mempunyai struktur yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan saat itu. Fungsi misalnya bisa digunakan sebagai kategori. Dalam membeli pena kita mempunyai beberpa kategori seperti warna, ukuran dan sebagainya.
2. Stabilitas
Dunia realitas yanng berstruktur tadi mempunyai kelanggengan, dalam arti tidak selalu berubah-ubah. Melalui pengalaman kita mengetahui bahwa tingi/besar seseorang tetap , walajupun dari bayangan terfokus pada mata kita berubah seiring dengan perbedaan jarak. Walaupun alat-alat panca indera kita sangat sensitif, kita mampu untuk secara intern menghaluskan perbedaan-perbedaan atau perubahan-perubahan dari input sehingga dunia luar tidak berubah-ubah.
3. Makna
Persepsi bermakna dimungkinkan karena persepsi-persepsi terstruktur dan stabil tidak terasingkan/terlepas satu sama lain, melainkan berhubungan setelah selang beberapa waktu. Jika tidak, maka setiap masukan yang sifatnya perseptualakan ditangkap sebagai sesuatu yang baru. Dan akibatnya kita akan selalu berada dalam keadaan heran/terkejut/aneh dan gtiak ada yag nampak familiar bagi kita.
Makna berkembang dari pelajaran dan pengalaman kita masa lalu, dan dalam kegiatan yang ada tujuannya. Kita belajar mengemangkan aturan-atruan bagi usaha dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan atruan-aturan ini kita kita bertindak sebagai pemroses aktif dari stimulasi kita mengkategorisaikan peristiwa-peristiwa di masa lalau dan sekarang. Kita menjadi pemecah masalah yang aktif dalam usaha mencari makna dari lingkunagan kita. Artinya, kita belajar untuk memberi makna pada persepsi-persepsi kita yang dianggap masuk akal jika dihubungkan dengan pengalaman masa lalu, tindakan dan tujuan masa sekarang, dan antisipasi kita tentang masa depan.
Suatu hal yang pokok dalam makna ini adalah sistem kode bahasa. Dengan kemampuan bahasa, kita dapat menangkap stimulasi eksternal dan menghasilkan makna dengan memberi warna dan merumuskan kategorinya. Dengan memberi kode secara linguistik pada pengalaman-pengalaman, kita dapat mengingat, memanipulasi, dan membagi bersama dengan orang lain, serta menghubungkan mereka pada pengalaman-pengalaman lain melalui penggunaan kata-kata yang mencerminkan pengalaman-pengalaman itu. Makna, karenanya, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan bahasa dan tergantung pada penggunaan kta atas kata-kata yang dapat memberi gambaran secara tepat
2.6 Dimensi-dimensi Persepsi
Kita telah membahas sebelumnya bahwa persepsi tentang lingkungan fisik dan sosial merupakan kegiatan internal dalam menangkap stimuli dan kemudian memrosesnya melalui sistem syaraf dan otak sampai akhirnya tercipta struktur, stabilitas, dan makna darinya. Untuk memahami bekerjanya proses tersebut, kita harus menyadari akan adanya dua dimensi pokok fundamental dari persepsi:
1. Dimensi fisik (mengatur/mengorganisasi)
2. Dimensi psikologis (menafsirkan).
Kedua dimensi ini secara bersama-sama bertanggungjawab atas hasil-hasil persepsi, sehingga pengertian tentangnya akan memberi gambaran tentang bagaimana persepsi terjadi.
1. Dimensi Persepsi secara Fisik
Sekalipun dimensi fisik ini merupakan tahap penting dari persepsi, tetapi untuk tujuan kita mempelajari Kounikasi Antar Budaya, hanya merupakan tahap permulaan dan tidak begitu perlu untuk terlalu didalami. Dimensi ini menggambarkan perolehan kita akan informasi tentang dunia luar. Tahap permulaan ini mencakup karateristik-karakteristik stimuli yang berupa energi, hakikat dan fungsi mekanisme penerimaan manusia (mata, telinga, hidung, mulut, dan kulit) serta transmisi data melalui syaraf menuju otak, untuk kemudian diubah ke dalam bentuk yang bermakna.
Bagaimana bekerjanya anggota tubuh manusia pada tahap ini dapat dikatakan sama antara satu orang dengan orang lainnya, baik yang berasal dari kebudayaan yang sama ataupun berbeda. Karena setiap orang pada dasarnya memiliki mekanisme anatomis dan biologis yang sama, yang menghubungkan mereka dengan lingkungannya.
2. Dimensi Persepsi secara Psikologis
Dibandingkan denga penanganan stimuli secara fisik, keadaan individu (seperti kepribadian, kecerdasan, pendidikan, emosi, keyakinan, nilai, sikap, motivasi dan lain-lain) mempunyai dampak yang jauh lebih menentukan terhadap persepsi mengenai lingkungan dan perilaku. Dalam tahap ini, setiap individu menciptakan struktur, stabilitas, dan makna dalam persepsinya, serta memberikan sifat yang pribadi dan penafsiran mengenai dunia luar.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menerima begitu sbanyak masukan pesan. Misalnya ketika membaca buku, selain kata-kata yang ada dalam buku tersebut, kita juga akan menerima pesanlainnya seperti suhu udara dalam ruangan tempat kita berada, kondisi kursi yang diduduki, suara air di kamar mandi, suara anak yang menangis, dan berbagai stimulus lainnya yang ada di sekitar kita. Semus stimulus ini secara bermasaan akan ikut mempengaruhi proses kegiatan kita dalam membaca buku. Namun demikian, dalam praktiknya tidak mungkin kita mengolah semua masukan pesan yang kita terima. Dengan kata lain kita melakukan penyeleksian terhadap semua stimulus yang kita terima. Proses penseleksian ini terjadi secara cepat (dalam beberapa detik saja),dan mungkin secara spontan atau dalam keadaan tidak sadar.
Keputusan untuk menyeleksi semua masukan pesan yang akan diberi makna secara langsung berhubungan dengan kebudayaan kita. Selama hidup kita telah belajar, baik selaku individu ataupun selaku anggota dari suatu kelompok kebudayaan tertentu. Ini berarti bahwa kebudayaan memang mempunyai pengruh pada proses dan hasil persepsi.
Proses seleksi dalam persepsi mengenai suatu objek dan lingkungan sekelilingnya, menurut Samovar (1981) secara umum melibatkan tiga yang saling berkaitan yakni:
1. Selective exposure (seleksi terhadap pengenaan pesan/ stimulus)
2. Selective attention (seleksi dalam hal perhatian)
3. Selective retention (seleksi yang menyangkut retensi/ ingatan).
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dengan mengetahui ciri dasar budaya dari tiap-tiap suku bangsa akan mengurangi keterkejutan budaya (gegar budaya), memberikan kepada kita wawasan terlebih dahulu dan memudahkan kita untuk berinteraksi dengan suku bangsa lain yang sebelumnya sulit kita lakukan. Dari interaksi ini selanjutnya akan cenderung terjadi relasi.
Sebenarnya keanekaragaman budaya bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang yang memungkinkan kita merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Dari sini kemudian akan timbul empathy dari diri kita terhadap orang-orang dari suku bangsa lain. Adanya saling memahami dan pengertian di antara orang-orang berbedabudaya akan mengurangi konflik yang selama ini sering terjadi. Konflik biasanya terjadi karena berbedanya persepsi mengenai nilai- nilai antarbudaya.
Tapi kita harus optimis mengenai perbedaan budaya di Indonesia. Karena pada dasarnya. hal itu merupakan salah satu kekayaan dari Negara Republik Indonesia, Dan ini adalah tantangan bagi kita, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang ilmu komunikasi



DAFTAR PUSTAKA
Mulyana, A. Teori Komunikasi-modul 14.2008.Jakarta:Nusa Indah
http://kuliah.dagdigdug.com/KomunikasiAntarbudaya
Sendjaja, Sasa Djuarsa. Pengantar Ilmu Komunikasi-modul 19.2004.Jakarta:Universitas Terbuka

Minggu, 18 Desember 2011

KONSEP KURIKULUM

Penafsiran konsep kurikulum bagi peneliti dan praktisi pendidikan dapat berbeda satu sama lain. Secara umum, konsep kurikulum dapat didefinisikan sebagai suatu spesifik rangkaian pengetahuan, keterampilan dan kegiatan untuk disampaikan kepada siswa. Penafsiran lain, konsep kurikulum dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang direncanakan sebagai panduan guru untuk mengajar dan siswa untuk belajar.

Aliran atau teori pendidikan memiliki model konsep kurikulum dan praktek pendidikan yang berbeda : 
A. Model konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut subyek 
kurikulum akademis 
B. Model konsep kurikulum pendidikan pribadi disebut kurikulum 
humanistik 
C. Model konsep kurikulum interaksionis disebut kurikulum rekonstruksi 
sosial 
D. Model konsep kurikulum teknologi pendidikan disebut kurikulum 
teknologis 


Teknologi dan Kurikulum

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini menekankan isi kurikulum tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit/khusus dan akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur. 
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah 
dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) di perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (systim technology). 
Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada 
penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi efektivitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga 
http://www.scribd.com/doc/41008423/Model-Konsep-Kurikulum - outer_page_12
Model-model pengajaran yang melibatkan penggunaan alat. Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul. Pengajaran denga bantuan komputer, dan lain-lain. Dalam arti teknologi sistem, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program sistem, bisa program sistem yang ditunjang dengan alat dan media, dan bisa juga program sistem 
yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran. 
. 
1.Beberapa ciri kurikulum teknologi : 

Kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus, yaitu: 

a. Tujuan. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan 
dalam bentuk perilaku. Tujuan-tujuan yang bersifat umum yaitu kompetensi 
dirinci menjadi tujuan-tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuan 
instruksional. Objektif ini menggambarkan perilaku, perbuatan atau kecakapan- keterampilan yang dapat diamati atau diukur. 

b. Metode. Metode yang merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons yang diharapkan maka respons tersebut diperkuat. Tujuan- tujuan pengajaran telah ditentukan sebelumnya. Pengajaran bersifat individual, tiap siswa menghadapi serentetan tugas yang harus dikerjakannya, dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. Pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Setiap siswa harus menguasai secara tuntas tujuan-tujuan program pengajaran. 


Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah- langkah sebagai berikut

1.Penegasan Tujuan 
Para siswa diberi penjelasan tentang Pentingnya bahan yang harus dipelajari. Sebagai tanda menguasai bahan mereka harusmenguasai seara tuntas tujuan-tujuan dari suatu program. 

2. Pelaksanaan pengajaran. 
Para siswa belajar secara individual melalui media buku-buku ataupun media elektronik. Dalam kegiatan belajarnya mereka dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar ataupun perilaku-perilaku yang dinyatakan dalam tujuan program. Mereka belajar dengan cara memberikan respons secara cepat terhadap persoalan- persoalan yang diberikan. 

3. Pengetahuan tentang hasil. 
Kemajuan siswa dapat segera diketahui oleh siswa sendiri, sebab dalam model kurikulum ini umpan balik telah mereka kuasai dan apa yang masih harus dipelajari serius. 

4. Organisasi bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum 
banyak diambil disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga 
penguasaan sesuatu kompetensi. Bahan ajar yang luas/besar dirinci menjadi 
bagian-bagian atau sub kompetensi yang lebih kecil, yang menggambarkan 
objektif. 

5. Evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan pada setiap saat, 
pada suatu pelajaran, suatu unit ataupun semester. Fungsi evaluasi ini macam- macam, sebagai umpan balik bagi siswa dalam penyempunaan penguasaan suatu satuan pelajaran (evaluasi formatif), umpan bagi siswa pada akhir suatu program atau semester (evaluasi sumatif Juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan pengembang kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum. Evaluasi yang mereka gunakan umumnya berbentuk tes objektif. 

2. Pengembangan kurikulum 
Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa dasar , yaitu: 

1) Prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain,

2) Hasil pengembangan yang berbentuk model adalah yang bisa iuji coba ulang, dan memberikan hasil yang sama. Dari pengembangan kurikulum 
teknologis adalah penekanan pada petensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu. Pengembangan kurikulum ini membutuhkan kerjasama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik dan media cetak. Di pihak lain harus dicegah jangan sampai pengembangan kurikulum ini menjadi objek bisnis. Pengembangan pengajaran yang betul-betui berstruktur dan bersatu dengan alat dan media membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Inilah hambatan utama pengembangan kurikulum ini, terutama bagi sekolah atau daerah-daerah yang kemampuan finansialnya masih rendah. Pemecahan masih dapat dilakukan dengan menerapkan model kurikulum 
teknologis yang lebih menekankan pada teknologi sistem dan kurang menekankan pada teknologi alat. Dengan pendekatan ini biaya dapat lebih ditekan, di samping memberi kesempatan kepada pelaksanaan pengajaran, terutama guru-guru untuk mengembangkan sendiri program pengajarannya. Model ini di Indonesia dikenal dengan nama Satuan Pelajaran dalam lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah atau Satuan Acara Perkuliahan pada Perguruan Tinggi, sebagai bagian dari Sistem Instruksional atau Desain Instruksional.


Pengembangan kurikulum teknologis terutama yang menekankan teknologi alat, perlu mempertimbangkan beberapa hal.

Pertama, formulasi perlu dirumuskan 
terlebih dahulu apakah pengembangan alat atau media tersebut benar-benar 
diperlukan. Hal ini menyangkut pasaran. 
Kedua spesifikasi, diperlukan adanya spesifikasi dari alat atau media yang akan dikembangkan, baik dilihat dari segi kegunaannya maupun ketepatan penggunaannya. 


KESIMPULAN

Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) di perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (systim technology). 

REFERENSI
http://www.scribd.com/doc/41008423/Model-Konsep-Kurikulum

Pemanfaatan Paket Multimedia Dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh: Pengalaman Universitas Terbuka

Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, khususnya pada jenjang Perguruan Tinggi memperhatikan hal-hal berikut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas:
kurikulum yang ramping efisien dan efektif, yaitu dengan tujuan kurukuler yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders.
system pendidikan yang multi entri dan multi exit
system pendidikan sepanjang hayat.
tutorial yang inheren
system alih kredit yang adil dan sistematis
system evaluasi yang berkualitas
system komunikasi dan informasi yang intergratif
penerapan teknologi komunikasi informasi yang canggih dalam pembelajaran

Universitas terbuka atau UT merupakan institusi pendidikan tinggi yang ,menerapkan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Pada awal berdirinya, UT menggunakan media cetak sebagai media utama. Pada perkembangannya UT menyadari perlunya dikembangkan bahan ajar yang memungkinkan intensitas interaksi yang lebih tinggi antara mahasiswa dan bahan ajar.
Penyelenggaraan pendidikan dengan sistem jarak jauh (PJJ) tidak dapat dilepaskan dari peran media. Keagan 1991 menekannkan pentingnya penggunaan media dalam PJJ sebagai konsekuensi dari adanya keterpisahan antara sumber belajar dan peserta belajar.
Pengertian dan jenis media

Media adalah alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi yang dimaksudkan untuk pembelajaran ( Heinich,dkk., 1996 ). Dalam sebuah penyelenggaraan system PTJJ, media merupakan sebuah prasyarat yang diperlukan untuk menjembatani keterpisahan antara pengajar dan perserta didik.

Jenis media dalam Pembelajaran Terbuka Jarak Jauh terdapat 2 bentuk , yaitu
v Media Cetak
v Media non Cetak

Media Cetak

Media cetak sebagai media yang relatif ekonomis dan mudah dijangkau mahasiswa diasumsikan sebagi media yang tidak mempunyai kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan pesrta ajar. Pada kenyataannya media cetak dapat dikembangkan menjadi media yang interaktif. Interaksi tersebuukan sesuatu yang bert dapat berbentuk pertanyaan beserta latihan, umpan balik, atau meminta peserata ajar untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan materi

Sampai saat ini, Media yang sering digunakan di UT adalah media cetak. Materi ajar dikemas dalam bentuk Buku Materi Pokok ( BMP ).
BMP dan modul didesain dengan memperhatiakan kebutuhan peserta ajar untuk berinteraksi dengan materi ajar. Pemanfaatan system modular mempunyai makna bahwa materi ajar dapat dipelajari bagian per bagian secara runtut dan berkesinambungan. Secara lebih rinci Megger ( 1995 ) mengungkapkan beberapa komponen penting dalam bahan ajar yang mengguanakan system modular . Komponen tersebut antara lain :
Deskripsi materi ajar secara menyeluruh ( program picture )
Tujuan pembelajar yang akan dicapai (objektif)
Manfaat dan relevansi materi ajar ( relevance )
Contoh kompetensi yang akan dimiliki setelah mempelajari modul ( demo )
materi ajar ( instruction )
Umpan balik ( feedback )
Cara untuk menguji keterampilan yang telah dipelajari.

Dengan kemampuan berpenampilan demikian, maka wajarlah media cetak mampu berperan sebagai media yang paling banyak digunakan serta mampu mempertahankan peranannya dalam PTJJ. Maka modul disusun dalam systematika sebagai berikut.

Halaman sampul ( cover page )
Halaman Perancis
Daftar isi
Tinjauan Mata Kuliah
Modul1
Pendahuluan
Kegiatan Belajar 1

Topik
Latihan dan Petunjuk jawaban Latihan
Rangkuman
Tes Formatif dan Feed back

Kegiatan Belajar 2 dst

Kunci tes formatif
Daftar Rujukan
Modul 2 dst




Penjelasan singkat fungsi bagian-bagian dalam sistematis tersebut adalah sebagai berikut:

Halaman Sampul ( Cover Page )

Halaman sampul memuat informasi kode mata kuliah, jumlah sks untuk mata kuliah tersebut dan jumlah modul dalam BMP tersebut, diikuti oleh nama mata kuliah dan penulis serta tahun vetak BMP.

Halaman Perancis

Pada halaman ini tercantum pemegang hak cipta, riwayat percetakan modul, dan KDT ( Katalog Dalam Terbitan). BMP pada perpustakaan UT

Daftar Isi

Pada daftar isi, dapat dijumpai urutan materi yang ada dalam BMP disertai halaman dimana mahasiswa dapt menemukan materi tersebut

Tinjauan Mata Kuliah

Tinjauan Mata Kuliah memberikan gambaran keseluruhan materi secara sepintas. Pada umumnnya Tinjauan Mata Kuliah berisi deskripsi singkat mata kuliah, kegunaan mata kuliah , bagi mahasiswa susunan materi ( dari awal sampai akhir ). Serta petunjuk bagi mahasiswa untuk mempelajari BMP tersebut.

Modul 1

Setiap modul terdiri dari Pendahuluan, beberapa kegiatan belajar ( tergantung topic yang dibahas ), jawaban Tes Formatif dan Daftar Rujukan . Secara umum satu modul membahs satu sampai tiga topic.

Pendahuluan

Bagian Pendahuluan berisi deskripsi singkat dari topic yang akan dibahas dalam modul, relevansi topic dengan mata kuliah, dan tujuan instructional yang ditargetkan untuk dicapai oleh mahasiswa. Bagian pendahuluan ini dapat dikatakan versi mini dari tinjauan mata kuliah, bedannya ruang lingkup Pendahuluan hanya mencakup sebagian kecil dari ruang lingkup tinjauan mata kuliah.

Kegiatan Belajar

Dalam satu Kegiatan Belajar, mahasiswa akan mendapatkan penjelasan tentang materi yang dilengkapi Latihan, Rangkuman, dan Tes Formatif.



Kunci Tes Formatif

Berisi jawaban tes formatif yang dilengkapi dengan penjelasan untuk membantu mahasiswa memahami jawaban yang benar adalah jawaban tertentu.




Daftar Rujukan

Daftar rujukan memuat buku dan sumber lain yang digunakan dalam menulis modul yang disusun secara alfabetis




Media Non Cetak
Secara umum, media non cetak dapat dikelompokkan ke dalam audio,video, dan Komputer.Berikut ini penjelasan mengenai ketiga ragam media non cetak :

1. Audio

Dalam hampir semua proses pendidikan, jenis suara yang paling banyak digunakan adalah suara manusia. Dubridge ( 1983 ) menyatakan bahwa suara manusia mempunyai kualitas tertentu yang tidak dimiliki oleh media cetak. Suara manusia mampu memberikan intonasi, tempo, volume, dan penekanan , yang kesemuanya sangat berarti alam proses pembelajaran. Keunggulan yang dimiliki oeh suara manusia ini mampu ditransfer melalui media audio yang dikenal sebagai media yang murah,dan mudah diakses. Dalam sistem pembelajaran jarak jauh, media audio dikategorikan dalam progam audio yang dapat dikemas dalam bentuk program audio kaset dan siaran radio. Walaupun keduannya memiliki kesamaan mulai dari perkembangan naskah sampai dengan produksinya, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Perbedaan dasar media audio audio kaset dengan media radio adalah dalam hal penggunaan serta fomat penyajian. Dari sisi penggunaanya pada program audio kaset, kendali terletak pada peseta didik. Mereka leluasa untuk menghidupkan, mematikan, mengulang dan mempercepat program yang mereka dengarkan sesuai keinginan mereka. Hal seperti ini tidak terjadi pada siaran radio, dimana peserta didik tidak memliki kendali. Walaupun dikenal sebagi media sederhana, keberadaan media audio kaset dalam sistem pembelajaran jarak jauh dinilai cukup efektif dan banyak disukai.
Menurut Rowntree tahun (1994), format penyajian audio kaset ini, secara garis besar dibedakan dalam 3 bentuk penyajian yaitu :
Hanya mendengar
Mendengar dan melihat
Mendengar, melihat dan melakukan

Program audio kaset yang melibatkan fasilitas untuk melihat atau bahkan melakukan sesuatu mempunyai kekuatan pengajaran yang bersifat interaksi dan lebih mudah diikuti.
Radio merupakan media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Radio digunakan karena 2 hal. Biaya produksi yang leboh murah dibandingkan dengan media lain dan kemampuannya dalam menjangkau daerah yang lebih luas dan terpencil.Variabel yang perlu diawspadai dalam penggunaan radio dalam media pembelajaran adalah sifat radio yang transistori, dimana materi ajar yang disiarkan melalui radio cepat berlalu dan mudah dilupakan. Dengan demikian, media radio lebih tepat digunakan untuk menyampaikan materi ajar yang bersifat umum auditif dan konkrit, sehingga lebih mudah diterima. Sementara itu kaset audio dapat dianfaatkan untuk meminimalkan keterbatasan radio.

2.Video
Materi yang dikemas dalam bentuk video ( moving pictures).Denagn atau tanpa suara dapat ditampilkan dalam televisi dan video kaset. Media video / televisi mampu menyajikan pengalaman pada peserta didik, misalnya :
Mendemonstrasikan praktikum,eksperimen, materi pelajaran yang bersifat keterampilan,
Menyediakan berbagai informasi berdasarkan sumber nyata ( real live resources)
Menggantikan kegiatan field study.

3. Media Komputer
Salah satu kelemahan penyelenggaraan sistem PTJJ adalah minimnya umpan balik yang dapat diperoleh peserta didik tentang proses atau hasil belajar yang telah mereka tempuh. Hal ini disebabkan interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik relatif rendah.Potensi media komputer yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan efektifitas proses pembelajaran pada sistem PTJJ antara lain :
Memungkinkan terjadinya interksi langsung antara peseta didik dan materi pembelajaran.
Proses belajar dapat berklangsung secara individual sesuai denga kemampuan belajar peserta didik.
Mampu menampilkan unsur audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multimedia).
Dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik denga segera.
Mampu menciptakan proses belajar berkesinambungan.

D. Paket Bahan Ajar multimedia
Seperti telah dijelaskan di muka . bahwa media cetak. Memiliki keunggulan untuk digunakan sebagai si]stem pembelajaran jarak jauh. Umumnya media cetak digunakan sebagai berisikan materi utama . sementara media lain berfungsi sebagai media yang menyampaikan materi penjelasan. Proses belajar interaktif dapat dirancang dengan mengkombinasikan dua jenis media yang secara fisik tidak dikenal sebagai media yang memiliki fungsi interaktif. Pada model listening and looking, peserta ajar diberi kesempatan untuk melihat dan atau membaca teks yang secara bersamaan mendengarkan audio kaset. Pada model listening, looking, doing, selain mendengar dan melihat, mahasiswa diperkaya dengan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu.

Kesimpulan :
Belajar dapat dilakukan dimana saja.Pembelajaran tidak harus dilakukan secara tatap muka. Kendala jarak dan kendala waktu dapat diatasi dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh.dan menggunakan media yang tepat.
Referensi:
Dewi Padmo dkk ( editor ).Teknologi pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melaui Teknologi pembelajaran, Ciputat: Pusat Teknologi Komunikasikom dan Informasi Pendidikan